PONOROGO, SINYALINDONESIA – Kabar duka kembali menyelimuti dunia jurnalistik Ponorogo. Hari Prasetyo alias Dekik (43) wartawan Simetris, berpulang pada Sabtu, 5 September 2026 sekitar pukul 05.30 WIB.
Dekik mengembuskan napas terakhir di rumah duka, Desa Koripan, Kecamatan Bungkal, Ponorogo, setelah beberapa waktu berjuang melawan penyakit komplikasi yang dideritanya.
Kepergian Dekik menyisakan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan terutama kawan-kawan media yang selama ini mengenalnya sebagai sosok setia kawan, peduli dan tidak segan memperhatikan kondisi sesama wartawan.
"Mas Dekik orangnya baik sekali. Selalu memperhatikan nasib kawan," ujar Nanang saat bertakziah di rumah duka. Pernyataan tersebut diamini Fajar, Juwaini dan sejumlah rekan media lainnya.
Bagi kalangan wartawan Ponorogo, Dekik bukan hanya rekan satu profesi. Ia adalah kawan yang mudah bergaul dan dikenal memiliki kepedulian terhadap kehidupan sesama pekerja media.
Sebelum aktif sebagai jurnalis, Dekik terlebih dahulu berkecimpung dalam dunia pendampingan desa. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya sebelum kemudian menekuni dunia jurnalistik.
Sehari Sebelum Meninggal Masih Berkomunikasi
Kabar meninggalnya Dekik terasa semakin mengejutkan karena sehari sebelumnya ia masih sempat berkomunikasi dengan sejumlah sahabat.
Hari Bara, Ketua DPC GRIB Jaya Ponorogo, menjadi salah satu orang yang sempat menjenguk Dekik sehari sebelum meninggal.
Hari Bara mengatakan kondisi komunikasi dengan Dekik ketika itu masih berjalan lancar. Dekik hanya mengeluhkan kondisi tubuhnya yang sedang sakit.
"Itu pertemuan terakhir saya. Dan kita semua nggak menyangka," kata Hari Bara.
Sementara itu, keluarga mengungkapkan Dekik sebelumnya sempat menjalani perawatan di Solo. Rencananya, almarhum masih akan menjalani kontrol pada pekan berikutnya.
"Sebelumnya telah dirawat di Solo. Rencana Minggu depan mau kontrol lagi," ujar orang tua Dekik lirih sembari mengusap air mata.
Namun takdir berkata lain. Sabtu pagi, Dekik mengembuskan napas terakhir di samping bapaknya.
Pelayat Terus Berdatangan
Rumah duka di Desa Koripan sejak pagi dipenuhi pelayat. Rekan-rekan media, tetangga, sahabat, hingga orang-orang dari berbagai desa yang pernah bersinggungan dengan Dekik semasa menjadi pendamping desa datang silih berganti.
Dekik kemudian dimakamkan di pemakaman desa setempat yang lokasinya tidak jauh dari rumah orang tuanya.
Kepergiannya meninggalkan kesedihan, tetapi sekaligus menyisakan banyak cerita tentang kebaikan dan kesetiaan seorang kawan.
Bagi rekan-rekan media, Dekik akan dikenang bukan semata karena karya jurnalistiknya. Lebih dari itu, ia dikenang sebagai kawan yang hadir ketika kawan lainnya membutuhkan perhatian.
Selamat jalan, Mas Dekik.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa almarhum, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan kuburnya dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Karyamu mungkin berhenti hari ini. Namun kebaikan, kepedulian dan kesetiaanmu kepada kawan akan terus hidup dalam ingatan kami.(Nang/Red).

Posting Komentar