
TNI bantu warga panen jangkrik di sela kegiatan TMMD
PONOROGO, SINYALINDONESIA – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Kodim 0802/Ponorogo tak hanya menyasar pembangunan fisik. Di balik pengerjaan jalan dan talud di Desa Bulu Lor, Kecamatan Jambon, ada cerita kecil yang menggambarkan kedekatan TNI dengan warga—hingga ikut turun tangan memanen jangkrik.
Pagi itu, Giman (54), warga Dukuh Bulu, tampak sibuk bersama istrinya memanen jangkrik dari kandang sederhana di samping rumahnya. Usaha yang terbilang tak biasa di lingkungan pedesaan ini justru menjadi sumber penghasilan rutin bagi keluarga kecilnya.
Di sela perjalanan menuju lokasi TMMD, Kopda Mahfud Ali bersama dua anggota Satgas lainnya menyempatkan diri singgah. Tanpa canggung, mereka langsung membantu proses panen—mengangkat wadah telur bekas yang menjadi sarang jangkrik, lalu memasukkannya ke dalam karung.
Suasana akrab terlihat jelas. Tak ada sekat antara prajurit dan warga. Yang ada hanyalah kerja bersama, saling bantu, dan canda ringan di tengah aktivitas pagi.
Hasil panen hari itu langsung diborong Andri (35), pengepul asal Magetan. Ia dengan cekatan menata karung berisi jangkrik di atas sepeda motor untuk dibawa ke toko-toko pakan burung di wilayahnya.
“Biasanya saya ambil dua minggu sekali. Lumayan, hasilnya stabil,” ujar Andri singkat.
Bagi Giman, usaha ternak jangkrik bukan sekadar alternatif, tetapi peluang yang belum banyak dilirik warga lain. Ia menyebut, beternak jangkrik membutuhkan ketelatenan dan konsistensi—dua hal yang tak semua orang siap menjalaninya.
“Di sini baru saya yang mencoba. Memang butuh ketelitian,” ujarnya sambil tersenyum.
Dalam satu siklus, panen jangkrik membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Namun dengan pengaturan beberapa siklus sekaligus, Giman bisa memanen setiap minggu—menjaga aliran pemasukan tetap berjalan.
Lebih dari sekadar cerita usaha rumahan, Giman melihat langsung dampak pembangunan TMMD terhadap masa depan usahanya. Selama ini, hasil panen hanya bisa diangkut menggunakan sepeda motor karena akses jalan terbatas.
“Kalau jalan sudah lebar dan talud selesai, harapannya bisa pakai mobil. Jadi lebih mudah dan bisa angkut lebih banyak,” ungkapnya penuh harap.
Di titik inilah TMMD menunjukkan maknanya: bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi desa. Dari jalan yang diperlebar, harapan warga ikut terbentang lebih luas—termasuk bagi usaha kecil seperti ternak jangkrik milik Giman.
Dan pagi itu, di antara karung-karung jangkrik yang diangkut, terselip satu hal penting: gotong royong yang hidup, nyata, dan berdampak.(Nang/Humas).
Posting Komentar