Sama-sama Kena Penalty +25 Menit, Satu Tetap Juara, Satu Didiskualifikasi: Ada Apa di Merdeka RUN Ponorogo?


Jawara merdeka run 10 K Sampung Ponorogo 

PONOROGO, SINYALINDONESIA
— Pelaksanaan Merdeka RUN Ponorogo 2026 menyisakan tanda tanya di kalangan peserta dan keluarga. Sorotan bukan semata soal siapa yang berhasil mencapai garis finis lebih cepat, tetapi mengenai mekanisme penalty time dan verifikasi hasil yang dinilai belum sepenuhnya transparan.

Pertanyaan itu muncul setelah terdapat peserta yang sama-sama mendapat penalty time +25 menit, tetapi berakhir dengan konsekuensi berbeda. Satu peserta tetap ditetapkan sebagai juara, sementara peserta lainnya justru tidak masuk podium dan dinyatakan diskualifikasi.

Berdasarkan informasi yang disampaikan panitia melalui pesan WhatsApp, penentuan podium 1, 2, dan 3 mengacu pada hasil verifikasi dari Gelarin. Dalam ketentuan tersebut, peserta diwajibkan memenuhi sejumlah persyaratan, antara lain menggunakan nomor peserta yang dilengkapi GPS, membawa Handphone/GPS, serta Personal Aid Kit atau P3K.

Namun, hasil verifikasi tersebut kemudian menjadi bahan pertanyaan.

Data yang dipersoalkan menunjukkan Mita, yang sebelumnya berpotensi menjadi juara 1, mendapatkan penalty time +25 menit karena disebut tidak menggunakan GPS dan tidak membawa P3K.

Sementara Alifia Ratu Askha, yang berpotensi menjadi juara 2, juga mendapatkan penalty time +25 menit dengan keterangan pelanggaran yang disebut sama, yakni tidak menggunakan GPS dan tidak membawa P3K.

Adapun Lily, yang berpotensi menjadi juara 3, mendapatkan penalty time +15 menit karena tidak membawa P3K. Sedangkan Syifa, yang berpotensi berada di posisi keempat, dinyatakan lengkap sehingga tidak mendapatkan penalty time.

Dalam hasil akhir yang disampaikan panitia, Mita ditetapkan sebagai juara 1, Syifa sebagai juara 2, dan Lily sebagai juara 3.

Sementara Alifia Ratu Askha tidak masuk dalam daftar podium dan dinyatakan terkena diskualifikasi.

Pertanyaan tentang konsistensi aturan

Perbedaan konsekuensi tersebut yang kemudian memunculkan pertanyaan dari keluarga peserta.

Jika dua peserta sama-sama mendapatkan penalty time +25 menit dengan keterangan pelanggaran yang sama, apa yang menjadi dasar sehingga salah satunya tetap berhak menjadi juara sementara yang lainnya didiskualifikasi?

Orang tua Alifia, Anang Sastro, meminta penyelenggara memberikan penjelasan secara terbuka mengenai mekanisme penilaian tersebut.

“Apa bedanya? Yang juara satu juga sama-sama kena penalty time +25 menit, tetapi tetap menjadi juara satu. Sementara Alifia Ratu Askha yang juga mendapat penalty time +25 menit justru tidak masuk podium,” ujar Anang.

Menurut dia, persoalan tersebut bukan sekadar mengenai hadiah atau posisi juara. Yang lebih penting adalah kepastian aturan dan konsistensi penerapannya terhadap seluruh peserta.

“Kalau acuannya aturan, ya harus jelas dan berlaku sama. Kalau memang pelanggaran tertentu berujung diskualifikasi, seharusnya ketentuan itu berlaku kepada semua peserta. Tetapi kalau penalty time hanya menjadi tambahan waktu, mekanismenya juga harus dijelaskan,” katanya.

Bukan sekadar soal podium

Merdeka RUN Ponorogo 2026 sebelumnya diharapkan menjadi ajang olahraga yang meriah sekaligus kompetitif. Namun munculnya persoalan penalty time membuat perhatian peserta bergeser dari lintasan menuju meja verifikasi.

Dalam sebuah lomba, aturan memang menjadi fondasi. Tetapi aturan tidak cukup hanya dipublikasikan. Peserta juga membutuhkan informasi yang jelas mengenai apa bentuk pelanggaran, bagaimana proses verifikasi, berapa penalty yang diberikan, dan apakah pelanggaran tertentu otomatis menyebabkan diskualifikasi.

Terlebih, hasil akhir menjadi penentu siapa yang berhak memperoleh podium.

Gelarin sampaikan permintaan maaf

Anang menambahkan, pihak Gelarin selaku pihak yang disebut melakukan verifikasi telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui akun TikTok miliknya.

“Pihak Gelarin sudah meminta maaf di TikTok saya. Ini akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan ke depan agar lebih baik lagi,” ujar Anang.

Permintaan maaf tersebut menjadi langkah positif. Namun, pertanyaan mengenai mekanisme penilaian masih menjadi perhatian keluarga peserta.

Sebab, inti persoalannya bukan hanya tentang siapa yang juara dan siapa yang tidak. Merdeka RUN Ponorogo 2026 kini menghadapi tuntutan yang lebih sederhana: menjelaskan aturan dengan terang dan memastikan aturan itu diterapkan secara konsisten.

Jika penjelasan tersebut dapat diberikan secara terbuka, polemik yang muncul diharapkan tidak berlarut dan penyelenggaraan Merdeka RUN pada masa mendatang dapat berlangsung lebih transparan, profesional, serta memberikan rasa adil bagi seluruh peserta.(Nang/Red).

0/Post a Comment/Comments

Sinyal Indonesia

Dilihat :