PONOROGO, SINYALINDONESIA — Pelayanan publik bukan semata soal prosedur dan kecepatan menyelesaikan urusan. Cara petugas berkomunikasi, bersikap, hingga memberi rasa nyaman kepada masyarakat menjadi bagian penting dari kualitas pelayanan.
Semangat itulah yang coba diperkuat Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Ponorogo melalui Sosialisasi Public Speaking dan Service Excellent bersama BRI KCP Kota Ponorogo, Jumat (21/8).
Bertempat di Ruang Kunjungan Rutan Ponorogo, kegiatan tersebut diikuti seluruh staf. Hadir sebagai pemateri, Supervisor Operasional Layanan BRI KCP Kota Ponorogo, Rinto Sugiharto, yang membagikan pengalaman dan praktik komunikasi dalam membangun pelayanan yang profesional sekaligus humanis.
Dalam sesi public speaking, Rinto menekankan bahwa komunikasi yang baik bukan sekadar kemampuan berbicara. Lebih dari itu, komunikasi merupakan cara membangun kepercayaan, menciptakan hubungan positif, serta memastikan pesan dapat diterima dengan jelas oleh lawan bicara.
Menariknya, salah satu pesan yang ditekankan Rinto justru berasal dari tiga kata sederhana yang sering dianggap sepele: “maaf, tolong, dan terima kasih.”
Tiga magic words tersebut memiliki makna besar dalam membangun budaya pelayanan. “Maaf” mencerminkan kerendahan hati, “tolong” menunjukkan penghargaan kepada orang lain, sementara “terima kasih” menjadi bentuk apresiasi atas bantuan atau pelayanan yang diberikan.
Pesannya sederhana, tetapi relevan dengan wajah pelayanan publik hari ini: masyarakat tidak hanya ingin dilayani, tetapi juga ingin dihargai.
Selain kemampuan berbicara, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai service excellent. Pelayanan prima dituntut mampu menghadirkan sikap ramah, responsif, profesional dan solutif sehingga masyarakat memperoleh pengalaman pelayanan yang positif.
“Pelayanan yang baik bukan hanya tentang menyelesaikan kebutuhan masyarakat, tetapi juga tentang bagaimana kita berkomunikasi dan memberikan kesan yang baik. Hal-hal sederhana seperti mengucapkan maaf, tolong, dan terima kasih dapat menjadi bagian penting dalam membangun pelayanan yang humanis,” jelas Rinto.
Tak berhenti pada teori, jajaran Rutan Ponorogo kemudian diajak mempraktikkan langsung materi tersebut di Ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).
Dalam simulasi pelayanan, peserta mempraktikkan teknik komunikasi, cara menghadapi masyarakat, hingga penerapan prinsip pelayanan prima dalam berbagai situasi. Pola ini membuat materi yang diterima tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi langsung diterjemahkan menjadi keterampilan yang dapat digunakan dalam pekerjaan sehari-hari.
Kepala Rutan Kelas IIB Ponorogo Muhammad Agung Nugroho mengatakan, peningkatan kualitas pelayanan harus berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi petugas.
“Pelayanan yang baik tidak hanya ditentukan oleh prosedur, tetapi juga bagaimana petugas berkomunikasi dan memberikan rasa nyaman kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami berharap seluruh jajaran semakin mampu memberikan pelayanan yang profesional, ramah, dan humanis,” ujarnya.
Bagi Rutan Ponorogo, pembenahan pelayanan bukan hanya tentang menghadirkan sistem yang lebih baik. Di balik loket pelayanan, ada manusia yang berhadapan dengan manusia lainnya.
Karena itu, budaya pelayanan dibangun dari hal-hal sederhana: berbicara dengan jelas, mendengarkan dengan baik, merespons dengan cepat, dan tidak lupa mengucapkan maaf, tolong, serta terima kasih.
Langkah sederhana tersebut diharapkan menjadi bagian dari budaya kerja jajaran Rutan Ponorogo dalam menghadirkan pelayanan publik yang semakin profesional, responsif, ramah, dan humanis.(Nang/Humas).

Posting Komentar