Kemarau 2026 Makin Ganas! 18 Desa di Ponorogo Terancam Kekeringan, PMI Mulai Droping Air

Droping air bersih mulai dilakukan PMI Ponorogo 

PONOROGO, SINYALINDONESIA
– Ancaman kekeringan mulai membayangi wilayah Kabupaten Ponorogo seiring prediksi musim kemarau 2026 yang lebih panjang dari biasanya. Sedikitnya 18 desa di tujuh kecamatan masuk kategori rawan kekurangan air bersih.

Mengantisipasi kondisi tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Ponorogo mulai melakukan droping air bersih. Bantuan perdana disalurkan ke Dusun Bunger, Desa Munggu, Kecamatan Bungkal, Selasa (4/8/2026).

Satu unit truk tangki berisi air bersih diberangkatkan dari halaman Pendopo Kabupaten Ponorogo sebagai langkah awal merespons kebutuhan mendesak warga.

Ketua PMI Ponorogo, Luhur Karsanto, mengatakan wilayah yang mengalami kekeringan hampir selalu berulang setiap musim kemarau. Tahun ini, Dusun Bunger menjadi titik pertama distribusi bantuan.

“Setidaknya ada 18 desa di tujuh kecamatan yang setiap tahun mengalami kekeringan. Dusun Bunger ini menjadi pelanggan pertama,” ujar Luhur.

PMI menyiagakan armada truk tangki yang akan bergerak secara mobile ke berbagai wilayah terdampak. Penyaluran dilakukan berdasarkan laporan dari desa dan hasil koordinasi dengan instansi terkait.

“Kami siap melakukan droping air bersih ke wilayah lain jika ada laporan. Distribusi akan menyesuaikan kebutuhan masyarakat di lapangan,” jelas mantan Sekretaris Daerah Ponorogo itu.

Upaya PMI ini dilakukan dengan berkoordinasi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo agar penyaluran bantuan lebih tepat sasaran.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Ponorogo mengapresiasi langkah cepat PMI dalam membantu masyarakat menghadapi ancaman kekeringan. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Ponorogo, Harjono, menilai kolaborasi lintas lembaga sangat dibutuhkan.

“Kalau prediksi BMKG musim kemarau berlangsung lima sampai enam bulan, maka perlu antisipasi lebih. Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah,” kata Harjono.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi musim kemarau di Jawa Timur berlangsung selama 16 hingga 19 dasarian, atau sejak Mei hingga September bahkan Oktober. Kondisi ini berpotensi memperparah krisis air di wilayah rawan.

BPBD Ponorogo telah memetakan sejumlah titik yang kerap terdampak kekeringan. Di Kecamatan Slahung, wilayah rawan meliputi Desa Duri, Wates, Tugurejo, Senepo, Caluk, dan Slahung. Di Kecamatan Sawoo, desa yang masuk kategori rawan antara lain Pangkal, Payungan, Sriti, dan Tumpuk.

Selain itu, Desa Gelangkulon di Kecamatan Sampung, Desa Sidoharjo di Kecamatan Jambon dan Pulung, serta Desa Suru, Klepu, dan Ngadirojo di Kecamatan Sooko juga menjadi perhatian.

Di Kecamatan Bungkal sendiri, selain Desa Munggu, wilayah yang perlu diwaspadai adalah Desa Belang.

Dengan pola kekeringan yang terus berulang setiap tahun, droping air bersih menjadi solusi jangka pendek yang masih diandalkan. Namun, kebutuhan akan solusi jangka panjang seperti pengelolaan sumber air dan infrastruktur penampungan air menjadi semakin mendesak agar krisis serupa tidak terus terjadi setiap musim kemarau.(Nang/Kominfo).

0/Post a Comment/Comments

Sinyal Indonesia

Dilihat :