
M. Agung Nugroho, Karutan Ponorogo apresiasi kegiatan apel besar Pramuka 2026
PONOROGO, SINYALINDONESIA – Pramuka kerap identik dengan seragam, baris-berbaris, dan kegiatan di alam terbuka. Namun, bagi Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Ponorogo, nilai-nilai kepramukaan punya makna yang jauh lebih luas: membentuk manusia agar lebih disiplin, mandiri, bertanggung jawab, dan siap kembali ke masyarakat.
Pesan itu mengemuka saat Kepala Rutan Kelas IIB Ponorogo, Muhammad Agung Nugroho, menghadiri Apel Besar Gerakan Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Ponorogo Tahun 2026 di Alun-Alun Ponorogo, Sabtu (29/8/2026).
Apel yang dimulai pukul 07.00 WIB tersebut mengusung tema “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.” Kegiatan diikuti berbagai unsur pemerintahan, organisasi, serta anggota Gerakan Pramuka di Kabupaten Ponorogo.
Bagi Agung, momentum tersebut bukan sekadar agenda tahunan Gerakan Pramuka. Ada nilai penting yang relevan dengan tugas pemasyarakatan, khususnya dalam membentuk karakter warga binaan.
“Nilai-nilai kepramukaan seperti kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, kerja sama, dan kepedulian terhadap sesama sangat penting dalam membentuk karakter,” ujar Agung.
Nilai-nilai tersebut, kata dia, juga diterapkan melalui program pembinaan di Rutan Ponorogo. Salah satunya melalui kegiatan kepramukaan bagi warga binaan.
Di balik tembok Rutan, Pramuka menjadi salah satu sarana untuk mengasah kedisiplinan sekaligus membangun kepercayaan diri. Warga binaan didorong belajar bekerja sama, memahami tanggung jawab, mengembangkan kepemimpinan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
“Harapannya, mereka semakin disiplin, percaya diri, bertanggung jawab, dan siap kembali menjadi bagian dari masyarakat dengan pribadi yang lebih baik,” katanya.
Bagi Rutan Ponorogo, proses pembinaan tidak berhenti pada bagaimana warga binaan menjalani masa pidana. Yang tak kalah penting adalah bagaimana mereka dipersiapkan ketika pintu Rutan kembali terbuka dan mereka harus berhadapan dengan kehidupan sosial yang sesungguhnya.
Karena itu, semangat kepramukaan ditempatkan sebagai bagian dari proses membangun karakter. Bukan sekadar aktivitas, melainkan pengalaman yang diharapkan meninggalkan bekal positif bagi warga binaan.
Kehadiran Karutan Ponorogo dalam Apel Besar Kwarcab Ponorogo juga menjadi bagian dari penguatan sinergi antara Rutan, Gerakan Pramuka, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Dari Alun-Alun Ponorogo, semangat Pramuka kembali ditegaskan. Bahwa membangun karakter bukan hanya urusan anak-anak muda yang mengenakan seragam cokelat. Di balik tembok Rutan pun, nilai disiplin, kemandirian dan pengabdian tetap punya ruang untuk tumbuh.
Pramuka untuk Ponorogo Hebat—dan untuk manusia yang lebih siap kembali memberi manfaat bagi masyarakat.(Nang/Red).
Posting Komentar