
Tak pernah mengira, rumah Mbah Puguh bakal direhab TNI
PONOROGO, SINYALINDONESIA – Pagi itu, sinar matahari belum sepenuhnya tinggi ketika senyum tak biasa menghiasi wajah Mbah Puguh (62). Warga Dukuh Bulu, Desa Bulu Lor, Kecamatan Jambon itu tampak sumringah menyaksikan rumahnya yang dulu rapuh kini mulai berbenah. Dinding yang semula lapuk, perlahan berdiri lebih kokoh. Atap yang dulu bocor, kini mulai tertata.
Bagi sebagian orang, rumah layak mungkin hal biasa. Namun bagi Mbah Puguh, ini adalah harapan yang datang di usia senja.
Selama bertahun-tahun, ia hidup seorang diri di rumah yang jauh dari kata layak. Istrinya telah lama meninggal dunia, sementara anak satu-satunya tinggal bersama keluarga di tempat lain. Hari-hari Mbah Puguh diisi dengan kesunyian—dan perjuangan.
“Mbote n, kulo mboten gadah sawah, nggih mboten gadah tegal,” ujarnya lirih saat ditanya soal mata pencaharian.
Untuk bertahan hidup, ia mengandalkan kerja serabutan sebagai buruh tani. Itu pun tidak menentu. Kadang ada panggilan kerja, kadang tidak. Sisanya, ia berharap dari bantuan desa yang datang sewaktu-waktu.
Di tengah keterbatasan itu, memperbaiki rumah menjadi sesuatu yang nyaris mustahil.
Namun keadaan mulai berubah ketika program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Kodim 0802/Ponorogo hadir di Desa Bulu Lor. Salah satu sasaran fisiknya adalah program Rehab Rumah Tidak Layak Huni (RTLH)—dan rumah Mbah Puguh menjadi salah satu yang dipilih.
Sejak saat itu, suasana di sekitar rumahnya tak lagi sepi. Puluhan anggota TNI bersama warga tampak bergotong royong. Ada yang mengangkut material, ada yang memasang rangka atap, ada pula yang merapikan dinding. Suara cangkul dan palu menggantikan sunyi yang selama ini menemani Mbah Puguh.
Kehadiran mereka bukan sekadar membangun rumah, tetapi juga menghadirkan rasa hangat dan kepedulian.
Program TMMD sendiri bukan hanya soal pembangunan fisik. Lebih dari itu, ia menjadi wujud nyata kemanunggalan TNI dan rakyat. Di Desa Bulu Lor, semangat itu terasa hidup—terlihat dari kebersamaan tanpa sekat antara aparat dan warga.
Bagi Mbah Puguh, bantuan ini bukan hanya memperbaiki bangunan. Ini adalah titik balik.
Ia tak lagi sekadar bertahan hidup di rumah yang nyaris roboh, tetapi mulai menata harapan baru—bahwa hari-hari ke depan akan lebih layak, lebih aman, dan lebih manusiawi.
Di sudut desa yang sederhana itu, kisah Mbah Puguh menjadi pengingat: pembangunan sejatinya bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi tentang menghadirkan keadilan dan harapan—bahkan bagi mereka yang nyaris tak terdengar.(Nang/Red).

Posting Komentar