ZIARAH JEJAK SEJARAH: KERATON KASEPUHAN CIREBON SAMBANGI TEGALSARI PONOROGO

Gusti Patih Sepuh XV Keraton Kasepuhan Cirebon, Pangeran Raja Goemelar Soeriadiningrat ziarah di makam Tegalsari Kyai Ageng Muhammad Besari 

PONOROGO, SINYALINDONESIA
– Langkah pelan namun sarat makna menyusuri kawasan Tegalsari, Ahad pagi (21/6/2026), menjadi penanda hidupnya kembali jejak sejarah yang telah berusia ratusan tahun. Gusti Patih Sepuh XV Keraton Kasepuhan Cirebon, Pangeran Raja Goemelar Soeriadiningrat, hadir tidak sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari mata rantai panjang hubungan spiritual, budaya, dan kekeluargaan yang menghubungkan Cirebon dan Tegalsari.

Kunjungan tersebut diawali dengan ziarah ke makam Kyai Ageng Muhammad Besari, sosok ulama besar yang dikenal sebagai pendiri Pondok Tegalsari—salah satu pusat pendidikan Islam terkemuka di Jawa pada masanya. Di tengah suasana khidmat, doa-doa dipanjatkan, seolah merajut kembali ingatan kolektif tentang peran besar Tegalsari dalam membentuk tradisi keilmuan dan dakwah Islam Nusantara.

Tidak berhenti di makam, rombongan melanjutkan napak tilas ke Masjid Jami Tegalsari dan Ndalem Ageng, dua situs yang menjadi saksi bisu kejayaan pesantren Tegalsari pada abad ke-18 hingga 19. Bangunan-bangunan itu, meski telah melewati zaman, masih berdiri tegak—menyimpan cerita tentang santri, ulama, dan jaringan keilmuan yang pernah menjangkau berbagai wilayah di Jawa.

Bagi Pangeran Raja Goemelar Soeriadiningrat, perjalanan ini bukan sekadar ritual ziarah, melainkan upaya menyambung kembali benang sejarah yang nyaris terlupakan.

“Kami datang ke Tegalsari untuk mengenang sekaligus menyambung kembali jejak hubungan keluarga yang telah terjalin sejak lama. Ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang tanggung jawab menjaga warisan sejarah dan budaya,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa hubungan antara Keraton Kasepuhan Cirebon dan Tegalsari tidak berdiri dalam ruang kosong. Ada ikatan genealogis, spiritual, dan intelektual yang telah terbentuk sejak masa para leluhur—ikatan yang kini coba dihidupkan kembali di tengah arus modernitas.

Kehadiran rombongan disambut hangat oleh keluarga besar dzuriyah Tegalsari. Kunto Pramono, salah satu perwakilan keluarga, menyampaikan rasa syukur atas kunjungan tersebut. Baginya, momen ini bukan sekadar pertemuan, tetapi juga penguatan identitas sejarah yang harus terus dijaga.

“Kami merasa sangat terhormat dan bahagia. Silaturahmi ini bukan hanya mempererat hubungan kekeluargaan, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga warisan para leluhur agar tetap hidup di tengah generasi sekarang,” ungkapnya.

Ziarah ini sekaligus menjadi refleksi bahwa Tegalsari bukan hanya situs sejarah, melainkan simpul peradaban. Dari tempat inilah nilai-nilai keislaman, kebudayaan, dan pendidikan pernah tumbuh dan menyebar luas, membentuk wajah masyarakat Jawa yang religius sekaligus berbudaya.

Di tengah perubahan zaman yang kian cepat, kunjungan seperti ini menghadirkan pesan penting: bahwa sejarah bukan untuk dikenang semata, tetapi untuk dirawat dan diwariskan. Tegalsari dan Cirebon, dalam hal ini, menjadi contoh bagaimana dua entitas berbeda tetap terhubung oleh nilai yang sama—yakni penghormatan terhadap ilmu, leluhur, dan tradisi.

Melalui ziarah ini, harapan pun mengemuka: agar generasi mendatang tidak tercerabut dari akar sejarahnya. Sebab di sanalah, identitas dan arah masa depan bangsa sesungguhnya berpijak.(MFH/Nang/Red).

0/Post a Comment/Comments

Sinyal Indonesia

Dilihat :