PONOROGO, SINYALINDONESIA – Komitmen pengabdian kepada masyarakat ditunjukkan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Ponorogo dengan cara sederhana namun bermakna: turun langsung membersihkan fasilitas umum. Selasa (7/4), jajaran pegawai bersama peserta magang menggelar kerja bakti di kawasan Patung Warok, Jalan HOS Cokroaminoto—salah satu titik ikonik di pusat kota.
Aksi bersih-bersih ini bukan sekadar rutinitas seremonial dalam rangka Hari Bakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi simbol perubahan wajah pemasyarakatan yang semakin terbuka, humanis, dan dekat dengan masyarakat.
Sejak pagi, para petugas terlihat menyapu, mengangkut sampah, hingga merapikan area sekitar. Lingkungan yang semula tampak kurang tertata perlahan menjadi lebih bersih dan nyaman. Aktivitas ini sekaligus menyita perhatian warga yang melintas, memperlihatkan sisi lain dari institusi pemasyarakatan yang selama ini identik dengan tembok tinggi dan pembinaan di balik jeruji.
Kepala Rutan Ponorogo, M. Agung Nugroho, menegaskan bahwa kerja bakti ini merupakan bagian dari upaya membangun kepercayaan publik.
“Pemasyarakatan tidak hanya berbicara soal pembinaan di dalam, tetapi juga bagaimana kami hadir dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, momentum HBP ke-62 menjadi refleksi sekaligus penguatan peran sosial jajaran pemasyarakatan. Tidak hanya menjaga keamanan dan pembinaan warga binaan, tetapi juga turut ambil bagian dalam menjaga lingkungan.
Langkah ini juga selaras dengan program pemerintah daerah dalam menciptakan ruang publik yang bersih dan sehat. Di tengah tantangan pengelolaan lingkungan perkotaan, keterlibatan berbagai pihak, termasuk institusi vertikal, menjadi kunci.
Kerja bakti ini mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik sapu dan karung sampah yang diangkat, terselip pesan kuat: pemasyarakatan ingin hadir lebih dekat, membaur, dan memberi dampak nyata.
Dengan semangat kebersamaan, Rutan Ponorogo menegaskan bahwa pengabdian tidak berhenti di dalam tembok, melainkan meluas hingga ke ruang publik—tempat masyarakat merasakan langsung manfaatnya.(Nang/Humas).

Posting Komentar