Dari Krebet untuk Ponorogo: Tembakau Jadi Harapan Baru, Jalan Desa Masuk Agenda 2027

Hj. Atika Banowati, SH dalam acara solosemiran dengan tema potensi tembakau di Kabupaten Ponorogo di desa Krebet jambon 

PONOROGO, SINYALINDONESIA
– Desa Krebet, Kecamatan Jambon, mulai menegaskan arah barunya. Di tengah keterbatasan anggaran desa, harapan itu tumbuh dari ladang-ladang tembakau.

Hal itu mengemuka dalam sosialisasi potensi tembakau yang digelar di Balai Desa Krebet, Sabtu (28/3/2026), menghadirkan anggota Komisi D DPRD Jawa Timur, Hj. Atika Banowati, SH, bersama Dinas Pertanian Ponorogo.

Kepala Desa Krebet, Muhammad Mukhlas, membuka acara dengan nuansa hangat Lebaran. Ia menyampaikan ucapan Idul Fitri sekaligus menyambut kehadiran Atika Banowati di desanya.

“Beginilah kondisi Desa Krebet, APBDes yang mencapai lebih dari Rp1 miliar sekarang tinggal ‘komanya’ saja,” ujarnya berseloroh, disambut tawa peserta.

Namun di balik candaan itu, tersimpan pesan serius. Mukhlas menegaskan, sektor pertanian—khususnya tembakau—mulai dilirik sebagai pengungkit ekonomi warga. Luasan lahan tembakau di Krebet pun terus bertambah.

“Padi tetap nomor satu. Tapi tembakau jadi pilihan karena keuntungannya menjanjikan. Apalagi ada dukungan dari dinas dan DPRD provinsi,” jelasnya.

Tembakau: Dari Alternatif Jadi Andalan

Anggota DPRD Jatim, Hj. Atika Banowati, menyebut kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi, melainkan jembatan antara kebijakan dan kebutuhan riil masyarakat.


Menurutnya, antusiasme warga Krebet terhadap tembakau harus diimbangi dengan pengetahuan teknis yang memadai. Karena itu, pihaknya menggandeng Dinas Pertanian untuk memberikan penyuluhan langsung.

“Kalau dikelola dengan baik, tembakau bisa meningkatkan pendapatan petani. Potensinya sangat prospektif,” ujarnya.

Tak hanya bicara produksi, Atika juga membuka ruang aspirasi. Salah satu yang mencuat adalah kebutuhan perbaikan jalan poros Desa Krebet–Jambon.

“Ini sudah kami catat dan direncanakan untuk dieksekusi pada 2027,” tegasnya.

Pasar Terbuka, Kualitas Jadi Kunci

Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Ponorogo, M. Tunggul Swastiko, menegaskan bahwa kekhawatiran soal pasar tembakau kini tak lagi relevan.

“Pasar sudah tersedia. Yang penting kualitas,” ujarnya.

Data Dinas Pertanian menunjukkan tren peningkatan signifikan. Produksi tembakau Ponorogo melonjak dari sekitar 938 ton pada 2021 menjadi hampir 3.000 ton pada 2024. Jumlah petani tembakau pada 2025 mencapai lebih dari 6.100 orang, dengan ribuan buruh tani terlibat.


Sebaran tembakau Virginia mencakup hampir seluruh kecamatan, termasuk Jambon. Sementara tembakau Jawa memiliki pasar tradisional yang kuat, salah satunya di Badegan.

Dari sisi harga, tembakau Jawa masih unggul jauh. Beberapa jenis bahkan menembus Rp200 ribu per kilogram, sementara tembakau Virginia berkisar Rp35 ribu per kilogram.

Penulis : Nanang

0/Post a Comment/Comments

Sinyal Indonesia

Dilihat :