
Wahyu Septrianto, (kalung surban hijau) bersama Dai ketika dakwah di Jerman
JERMAN, SINYALINDONESIA – Berdakwah di negara dengan mayoritas penduduk Muslim tentu memiliki dinamika tersendiri. Namun situasinya sangat berbeda ketika dakwah dilakukan di negara minoritas Muslim seperti Jerman. Di kota-kota seperti Bremen dan Berlin, realitas kehidupan umat Islam—termasuk diaspora Indonesia—memperlihatkan tantangan yang kompleks, mulai dari persoalan identitas hingga pengaruh budaya modern.
Selama sekitar 25 hari kegiatan dakwah yang dilakukan di Jerman, sejumlah tantangan utama muncul dalam kehidupan Muslim diaspora. Salah satu yang paling terasa adalah status umat Islam sebagai kelompok minoritas di tengah masyarakat yang mayoritas sekuler atau berakar pada tradisi Kristen.
Kondisi tersebut membuat sebagian Muslim diaspora harus pandai menyeimbangkan antara kehidupan profesional, integrasi sosial, dan komitmen terhadap ajaran Islam. Dakwah pun tidak sekadar berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga penguatan identitas keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
Kesibukan kerja juga menjadi tantangan tersendiri. Sebagian besar diaspora Indonesia di Bremen maupun Berlin bekerja di perusahaan, restoran, hotel, atau sedang menempuh pendidikan. Jadwal kerja yang padat membuat kegiatan kajian keislaman sering harus menyesuaikan waktu luang jamaah.
“Biasanya kajian lebih efektif digelar pada akhir pekan, ketika para pekerja dan mahasiswa memiliki waktu libur,” ujar salah satu pengisi kajian. Meski kajian daring menjadi alternatif, namun partisipasinya juga tidak selalu tinggi.
Persoalan lain yang cukup menonjol adalah bahasa. Dalam beberapa kegiatan kajian, jamaah tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga warga Jerman, terutama dari keluarga campuran—misalnya perempuan Indonesia yang menikah dengan warga Jerman. Akibatnya, materi kajian sering kali harus disampaikan dalam dua bahasa, Indonesia dan Jerman.
Tantangan dakwah juga muncul dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan fikih yang khas kehidupan Muslim minoritas. Jamaah kerap menanyakan berbagai persoalan praktis, seperti hukum bekerja di lingkungan non-Muslim, menghadiri acara lintas agama, hingga bagaimana menjaga identitas Islam di tempat kerja.
Bahkan tidak sedikit yang bertanya mengenai rasionalitas beragama—mengapa manusia harus beriman kepada Tuhan, melaksanakan shalat, maupun berpuasa. Kondisi ini menuntut pendekatan dakwah yang tidak hanya normatif, tetapi juga rasional dan kontekstual.
Lingkungan Eropa yang cenderung sekuler dan terbuka terhadap berbagai gaya hidup modern, termasuk normalisasi LGBT, juga menjadi tantangan tersendiri bagi komunitas Muslim. Dakwah di tengah kondisi tersebut tidak cukup hanya berupa ceramah, tetapi juga harus mampu membangun kesadaran spiritual yang relevan dengan kehidupan modern.
Tantangan berikutnya datang dari generasi kedua Muslim diaspora. Anak-anak yang lahir dan besar di Jerman sering kali lebih dekat dengan budaya Eropa dibandingkan budaya negara asal orang tuanya. Bahkan sebagian dari mereka tidak lagi fasih berbahasa Indonesia.
Karena itu, pendekatan dakwah kepada generasi muda harus lebih dialogis, intelektual, dan kontekstual agar tetap mampu menanamkan nilai-nilai Islam di tengah lingkungan multikultural.
Selain tantangan sosial, faktor alam juga tidak bisa diabaikan. Musim dingin yang panjang dengan suhu yang bisa turun hingga minus tujuh derajat menjadi kendala serius bagi aktivitas dakwah. Cuaca ekstrem membuat mobilitas jamaah terbatas dan kehadiran di mushola menurun.
Dalam situasi tersebut, kegiatan kajian sering kali dilakukan dalam kelompok kecil atau memanfaatkan platform daring agar jamaah tetap dapat mengikuti majelis ilmu.
Meski menghadapi berbagai tantangan, dakwah di kota Bremen dan Berlin tetap menunjukkan geliat yang positif. Melalui kolaborasi komunitas diaspora, organisasi seperti PCINU, serta dukungan lembaga sosial seperti Dompet Dhuafa, kegiatan dakwah terus berjalan dan menjadi ruang penguatan spiritual bagi umat Islam yang hidup sebagai minoritas.
Bagi komunitas Muslim diaspora, dakwah bukan sekadar menyampaikan ilmu agama. Lebih dari itu, dakwah menjadi upaya membangun ketahanan spiritual, menjaga identitas, sekaligus menghadirkan nilai-nilai Islam yang damai dan adaptif di tengah masyarakat global.(Redaksi/Humas).


Posting Komentar