PONOROGO, SINYALINDONESIA – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Daarut Taubah di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Ponorogo, Jumat (20/2). Sebanyak 103 warga binaan laki-laki duduk bersaf rapi, menyimak tausiyah yang menjadi pembuka rangkaian pembinaan rohani pada Jumat pertama Ramadan tahun ini.
Momentum Ramadan dimanfaatkan rutan bukan sekadar untuk kegiatan seremonial, melainkan sebagai ruang refleksi. Melalui pembinaan agama Islam yang menghadirkan pemateri dari Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF), warga binaan diajak memaknai puasa sebagai jalan memperbaiki diri—bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengendalikan sikap, lisan, dan perilaku.
Tausiyah yang disampaikan menekankan bahwa Ramadan adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk menata ulang komitmen hidup, memperkuat keimanan, dan membangun harapan baru selepas masa pidana. Peserta tampak larut dalam suasana, sebagian mengangguk pelan, lainnya menunduk khusyuk.
Kepala Rutan Ponorogo, M. Agung Nugroho, menegaskan bahwa pembinaan spiritual menjadi salah satu fondasi penting dalam proses pemasyarakatan. Menurutnya, perubahan perilaku tidak cukup hanya dengan pendekatan disiplin dan aturan, tetapi juga perlu sentuhan mental dan keagamaan.
“Ramadan adalah momen yang tepat untuk memperdalam keimanan dan memperbaiki diri. Kami ingin warga binaan tidak hanya menjalani hukuman, tetapi juga pulang ke masyarakat dengan bekal spiritual yang lebih kuat,” ujarnya.
Program pembinaan keagamaan ini menjadi bagian dari agenda rutin selama Ramadan. Selain membangun karakter religius, kegiatan tersebut diharapkan mampu memberi ketenangan batin dan motivasi positif bagi warga binaan dalam menjalani hari-hari mereka.
Bagi Rutan Ponorogo, pembinaan bukan sekadar kewajiban administratif. Ia adalah investasi sosial—ikhtiar agar mereka yang pernah tersandung hukum dapat kembali berdiri, lebih matang, lebih sadar, dan lebih siap menjadi bagian dari masyarakat.(Nang/Humas).

Posting Komentar