Dugaan Pelecehan Murid SD di Bandar Pacitan, Korban Ungkap Dicium dan Diraba Oknum Guru

Sepi, rumah SUK oknum guru yang diduga melakukan pelecehan kepada anak didiknya 

PACITAN, SINYALINDONESIA
— Dugaan pelecehan terhadap murid sekolah dasar kembali mengguncang dunia pendidikan di Kabupaten Pacitan. Seorang oknum guru SD negeri di Kecamatan Bandar, berinisial SUK (58), dituding melakukan tindakan tidak senonoh terhadap sejumlah murid perempuan pada akhir tahun 2025. 

Informasi yang diperoleh Sinyal Indonesia menyebutkan, empat hingga lima murid SDN 1 Bandar Pacitan mengaku menjadi korban. Pengakuan korban menyebutkan, tindakan tidak pantas itu terjadi sejak mereka duduk di kelas V hingga kini naik ke kelas VI.

“Korban mengaku pernah dicium, diraba pada bagian dada, serta dipeluk dengan erat oleh yang bersangkutan,” ujar sumber internal sekolah, Sabtu (31/1/2026).

Menurut keterangan korban, peristiwa tersebut kerap terjadi di lingkungan sekolah saat kondisi sepi. Beberapa murid lain disebut diminta pulang lebih dulu, sementara korban diminta menunggu dengan berbagai alasan. Setelah kejadian, korban mengaku diminta untuk tidak menceritakan peristiwa tersebut kepada siapa pun.

"Jangan bilang siapa-siapa ya. Itu dikatakan SUK."ujar Korban.

Tekanan psikologis dan rasa takut membuat para korban memilih diam. Namun, setelah mengetahui bahwa lebih dari satu murid mengalami perlakuan serupa, para korban akhirnya memberanikan diri melapor kepada guru lain. Laporan tersebut berujung pada mediasi internal sekolah bersama pengawas pendidikan, yang kemudian diikuti dengan mutasi SUK ke sekolah lain.

Meski telah dimutasi, langkah itu dinilai belum menyelesaikan persoalan. Berdasarkan keterangan korban dan sumber internal, tidak tampak adanya pengakuan kesalahan dari terduga pelaku. Bahkan, beredar informasi bahwa SUK membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai fitnah.

Upaya konfirmasi kepada SUK hingga Sabtu (31/1/2026) belum membuahkan hasil. Panggilan telepon tidak direspons, dan yang bersangkutan tidak berada di rumah. Pihak keluarga mengaku lagi pergi ke Pacitan kota.

Di tengah masyarakat, isu dugaan pelecehan tersebut disebut telah lama beredar meski sebelumnya hanya sebatas pembicaraan tertutup. 

“Sempat dengar kabarnya, tapi tidak menyangka kalau benar-benar terjadi,” ujar seorang warga.

Kasus ini menyoroti lemahnya mekanisme perlindungan anak di lingkungan sekolah. Mutasi tanpa penanganan hukum yang transparan dinilai berisiko memindahkan persoalan, bukan menyelesaikannya. Keberanian para korban untuk bersuara menjadi pengingat bahwa sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi anak, bukan tempat yang menyisakan trauma.(Nang/Red).

0/Post a Comment/Comments

Sinyal Indonesia

Dilihat :