PONOROGO, SINYALPONOROGO — Peringatan Hari Ibu 2025 di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Ponorogo berlangsung khidmat sekaligus sarat makna. Senin pagi (22/12), tepat pukul 07.30 WIB, lapangan dalam rutan menjadi saksi bagaimana penghormatan terhadap perempuan tidak sekadar diwacanakan, tetapi ditampilkan secara nyata.
Seluruh rangkaian upacara—mulai dari komandan upacara, pengibar bendera, hingga pembaca amanat—dipercayakan kepada petugas perempuan. Sebuah simbol kuat tentang peran, dedikasi, dan kontribusi perempuan di lingkungan pemasyarakatan, yang kerap bekerja dalam senyap namun menentukan.
Upacara ini diikuti seluruh pegawai serta warga binaan. Bagi mereka, peringatan Hari Ibu menjadi ruang refleksi bersama tentang nilai kasih, keteguhan, dan keteladanan yang melekat pada sosok perempuan.
Dalam amanatnya, Inspektur Upacara membacakan pidato Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia. Ditegaskan bahwa Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember bukan sekadar seremoni, apalagi perayaan “Mother’s Day” sebagaimana dipahami di beberapa negara.
“Peringatan Hari Ibu adalah bentuk penghargaan bangsa Indonesia terhadap perjuangan dan pengabdian perempuan dalam merebut serta mengisi kemerdekaan. Ini adalah apresiasi bagi seluruh perempuan Indonesia dalam setiap peran dan kapasitasnya,” demikian kutipan amanat Menteri PPPA.
Di balik tembok pembatas rutan, pesan itu terasa relevan. Nilai penghormatan, empati, dan kesetaraan bukan hanya penting bagi petugas, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembinaan warga binaan—bahwa perubahan ke arah yang lebih baik selalu berangkat dari penghargaan terhadap sesama, termasuk kepada perempuan.
Melalui peringatan Hari Ibu ini, Rutan Ponorogo menegaskan komitmennya untuk menanamkan nilai kemanusiaan dan penghormatan gender, sebagai fondasi pembinaan kepribadian menuju kehidupan yang lebih bermakna setelah masa pidana berakhir.
Penulis : Nanang

Posting Komentar