
Penampilan PCF di Paseban Alon-alon Ponorogo (foto Kominfo).
PONOROGO, SINYALINDONESIA – Suasana berbeda terasa di jantung Kota Reog. Sepanjang Jalan Aloon-Aloon Utara berubah menjadi lautan kreativitas saat Ponorogo Creative Festival (PCF) 2026 resmi digelar. Ribuan pengunjung tumpah ruah, menandai geliat ekonomi kreatif yang kian menggeliat di Bumi Reyog.
Memasuki tahun kelima penyelenggaraan, PCF tak lagi sekadar festival tahunan. Event ini menjelma menjadi panggung besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta komunitas kreatif untuk menunjukkan kualitas dan daya saingnya.
Selama empat hari pelaksanaan, 4–7 Agustus 2026, sebanyak 50 produk kreatif unggulan tampil memikat. Mulai dari kuliner inovatif, fesyen lokal, kriya, hingga karya visual seperti fotografi, film, animasi, dan desain grafis, semuanya hadir dalam satu ruang yang hidup dan dinamis.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Ponorogo, Harjono, menegaskan bahwa PCF memiliki dampak nyata bagi ekonomi daerah.
“Ini bukan hanya ajang pameran, tetapi motor penggerak ekonomi lokal. Perputaran uang, promosi produk, hingga peluang kerja sama semua terjadi di sini,” ujarnya, Rabu (5/8/2026).
Tak hanya transaksi jual beli, interaksi antar pelaku kreatif menjadi kekuatan utama festival ini. Banyak pelaku usaha memanfaatkan momentum untuk memperluas jaringan, menjajaki kolaborasi, hingga membuka peluang pasar baru di luar daerah.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, menyebut tema “Beyond the Horizon” sebagai simbol semangat pelaku kreatif yang tak ingin berhenti di batas lokal.
“Ponorogo ingin melompat lebih jauh. Kreativitas kita harus mampu menembus pasar yang lebih luas, bahkan global,” tegasnya.
Menurut Judha, konsistensi penyelenggaraan PCF selama lima tahun menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Tahun ini, puluhan komunitas kreatif juga turut ambil bagian, menambah warna dan energi baru dalam festival.
Lebih dari itu, PCF juga diarahkan sebagai langkah strategis untuk membawa Ponorogo masuk dalam jejaring kota kreatif dunia atau UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Dengan potensi yang terus berkembang, Ponorogo dinilai memiliki modal kuat untuk bersaing di tingkat internasional.
Keberhasilan Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) yang konsisten masuk Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) menjadi bukti bahwa event berbasis budaya dan kreativitas mampu mendongkrak citra daerah sekaligus menggerakkan ekonomi.
Rangkaian perayaan Hari Jadi ke-530 Kabupaten Ponorogo pun tak berhenti di PCF. Sejumlah agenda lain siap menggerakkan kota selama satu bulan penuh, termasuk Merdeka Run pada 22 Agustus 2026 di kawasan Monumen Reog. Antusiasme masyarakat terlihat dari habisnya 1.000 nomor peserta jauh sebelum hari pelaksanaan.
Dengan padatnya agenda event sepanjang Agustus, pemerintah daerah berharap dampak ekonomi bisa dirasakan lebih luas. Dari sektor UMKM, pariwisata, hingga jasa pendukung lainnya, semuanya bergerak dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
PCF 2026 menjadi bukti bahwa Ponorogo tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga serius membangun masa depan melalui kreativitas. Dari Aloon-Aloon, semangat itu kini menyebar—menggerakkan ekonomi, membuka peluang, dan membawa Ponorogo melesat lebih jauh.(Nang/Kominfo).
Posting Komentar