
Kang mas Moh. Komarudin, ketua PSHT cabang Ponorogo pusat Madiun syahkan warga baru di Mesir
KAIRO, MESIR, SINYALINDONESIA — Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) kembali menegaskan eksistensinya di panggung internasional. Di tengah denyut intelektual dunia Islam, tepatnya di Kairo, Mesir, organisasi pencak silat asal Madiun ini menggelar prosesi sakral pengesahan warga baru Tingkat I Cabang Khusus Mesir, Minggu malam hingga Senin dini hari, 12–13 Juli 2026.
Sebanyak sembilan calon pendekar resmi dikukuhkan dalam tradisi yang sarat makna tersebut. Mereka terdiri dari tujuh laki-laki dan dua perempuan, mayoritas merupakan mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Universitas Al-Azhar.
Prosesi dipimpin langsung oleh Kangmas Moh. Komarudin, S.Ag., M.Si., Ketua PSHT Cabang Ponorogo, yang ditugaskan Pengurus Pusat Madiun sebagai Dewan Pengesah. Kehadirannya bukan sekadar simbol formalitas, melainkan representasi kesinambungan ajaran dan legitimasi tradisi di tanah rantau.
Meski digelar ribuan kilometer dari Indonesia, nuansa sakral tetap terjaga. Para calon warga putra tampil dengan rambut dicukur sebagai simbol penyucian diri, sementara warga putri mengenakan hijab hitam yang mencerminkan keteguhan dan kehormatan.
Di latar ruangan, falsafah utama PSHT terpampang tegas, diapit bendera Merah Putih dan bendera Mesir—menjadi penanda bahwa identitas kebangsaan dan nilai lokal tetap hidup di negeri orang.
Ketua Cabang Khusus Mesir, Kangmas Ashar, menyebut momentum ini sebagai bukti kokohnya persaudaraan lintas negara.
“Jarak tidak menjadi penghalang. Ini adalah amanah besar bagi warga baru untuk menjaga nama baik organisasi dan bangsa,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua Dewan Cabang, Kangmas Afif. Ia menekankan bahwa menjadi warga PSHT di Mesir bukan hanya soal bela diri, tetapi juga integrasi antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan moral.
“Di bumi Al-Azhar, pendekar harus menjadi teladan—tidak hanya kuat di gelanggang, tetapi juga berkontribusi bagi umat,” katanya.
Dalam wejangannya, Komarudin menegaskan bahwa pengesahan bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan panjang pengabdian. Ia mengingatkan bahwa status warga PSHT melekat dengan tanggung jawab moral untuk menjadi manusia berbudi luhur, memahami benar dan salah, serta meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan.
Dengan bertambahnya sembilan warga baru, Cabang Khusus Mesir kini semakin menguat sebagai simpul diaspora budaya Indonesia. PSHT tidak hanya hadir sebagai organisasi pencak silat, tetapi juga sebagai duta nilai—mengajarkan persaudaraan, karakter, dan kearifan Nusantara di panggung global.
Di negeri para nabi, ajaran berbudi luhur itu terus disemai—mengalir, tumbuh, dan melintasi batas geografis, menjaga nyala tradisi agar tetap hidup sepanjang zaman.(Nang/Humas).

Posting Komentar