
Petugas Rutan kelas IIB Ponorogo jadi pengisi kegiatan MPLS di SDN Brotonegaran
PONOROGO, SINYALINDONESIA – Suara komando terdengar tegas di halaman SD Negeri 1 Brotonegaran, Selasa pagi (14/7/2026). Puluhan siswa berbaris rapi, mengikuti setiap aba-aba dengan penuh semangat. Di hadapan mereka, bukan guru biasa, melainkan tiga petugas dari Rutan Kelas IIB Ponorogo yang hari itu berperan sebagai instruktur.
Selama tiga hari, hingga Kamis (16/7), sebanyak 132 siswa kelas IV hingga VI mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan pendekatan berbeda. Tidak sekadar pengenalan lingkungan sekolah, mereka mendapat pelatihan baris-berbaris (PBB), wawasan kebangsaan, hingga pembinaan kedisiplinan yang dikemas ringan namun bermakna.
Keterlibatan petugas Rutan ini bukan tanpa alasan. Pihak sekolah secara resmi mengajukan permohonan agar siswa mendapat pembekalan karakter dari institusi yang identik dengan ketegasan dan kedisiplinan. Permintaan itu direspons melalui penugasan tiga petugas yang turun langsung ke lapangan.
Di bawah terik matahari, para siswa dilatih mulai dari sikap sempurna, penghormatan, hingga gerakan dasar baris-berbaris. Namun lebih dari itu, para instruktur menanamkan nilai yang kerap luput dalam pendidikan formal: disiplin sebagai kebiasaan, bukan sekadar aturan.
“Bukan hanya gerakan, tapi bagaimana anak-anak belajar menghargai waktu, mengikuti aturan, dan bertanggung jawab,” ujar salah satu instruktur di sela kegiatan.
Metode penyampaian pun dibuat interaktif. Sesekali terdengar tawa saat siswa mencoba menyesuaikan langkah yang belum seragam. Namun dari proses itu, perlahan terlihat perubahan—barisan semakin rapi, gerakan lebih kompak, dan kepercayaan diri mulai tumbuh.
Kepala Rutan Kelas IIB Ponorogo, M. Agung Nugroho, menegaskan bahwa keterlibatan ini merupakan bagian dari pengabdian institusi kepada masyarakat.
“Kami ingin hadir tidak hanya dalam fungsi pemasyarakatan, tetapi juga dalam pembentukan karakter generasi muda. Nilai disiplin, tanggung jawab, dan cinta tanah air harus ditanamkan sejak dini,” ujarnya.
Menurutnya, sinergi antara lembaga pemasyarakatan dan dunia pendidikan menjadi langkah strategis dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara karakter.
Di sisi lain, pihak sekolah menilai pendekatan ini memberi warna baru dalam MPLS. Anak-anak tidak hanya mengenal lingkungan sekolah, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung tentang pentingnya kedisiplinan dan nasionalisme.
Kegiatan ini menjadi cermin bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Lapangan sekolah, dengan aba-aba tegas dan langkah yang diselaraskan, justru menjadi ruang belajar yang efektif—membentuk kebiasaan kecil yang kelak menentukan arah besar kehidupan.
Di tengah berbagai tantangan moral generasi muda, langkah sederhana seperti ini menjadi investasi penting. Dari barisan yang rapi dan langkah yang serempak, harapan tentang generasi berintegritas mulai dibangun—pelan, tapi pasti.(Nang/Humas).
Posting Komentar