PONOROGO, SINYALINDONESIA — Di balik tembok Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Ponorogo, denyut kehidupan tak hanya diwarnai rutinitas pembinaan formal. Pada Rabu (13/05), suasana berbeda tampak di area brandgang rutan. Lahan yang sebelumnya terkesan terbengkalai kini disulap menjadi kebun sederhana, tempat warga binaan menanam harapan—melalui bibit terong.
Pagi itu, sejumlah warga binaan tampak sibuk menata polybag, mencampur media tanam, hingga menanam bibit dengan telaten. Di bawah terik matahari, aktivitas tersebut dilakukan dengan penuh semangat. Tak sekadar bekerja, mereka terlihat menikmati setiap prosesnya.
Petugas rutan turut hadir mendampingi. Selain memastikan keamanan, mereka juga memberikan arahan teknis mulai dari cara menanam yang baik hingga perawatan tanaman. Interaksi yang terjalin pun terasa lebih cair—mencerminkan pendekatan pembinaan yang humanis.
Program ini bukan sekadar kegiatan mengisi waktu. Ia menjadi bagian dari strategi pembinaan kemandirian yang terus dikembangkan oleh Rutan Ponorogo. Melalui pertanian sederhana, warga binaan diajak belajar tentang proses, kesabaran, dan tanggung jawab.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan nilai produktivitas sekaligus membekali keterampilan praktis kepada warga binaan,” ujar Kasubsi Pelayanan Tahanan Rutan Ponorogo, Yusril Arinaldy.
Ia menegaskan bahwa keterampilan seperti bercocok tanam bisa menjadi bekal penting ketika mereka kembali ke masyarakat.
Lebih dari itu, kegiatan ini juga mengajarkan makna kerja sama. Setiap tahapan—dari persiapan hingga penanaman—dilakukan secara gotong royong. Di sinilah tumbuh rasa kebersamaan yang kerap menjadi fondasi penting dalam proses reintegrasi sosial.
Pemanfaatan lahan brandgang juga mencerminkan upaya kreatif dalam mengelola ruang terbatas. Area yang sebelumnya kurang termanfaatkan kini berubah menjadi lingkungan yang lebih hijau dan produktif. Ke depan, hasil panen diharapkan tak hanya memberi manfaat bagi warga binaan, tetapi juga mendukung program ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan.
Bagi warga binaan, menanam terong bukan sekadar aktivitas fisik. Ia menjadi simbol proses menanam harapan—bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berubah.
Melalui program-program seperti ini, Rutan Ponorogo terus berupaya menghadirkan pembinaan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan. Sebuah langkah kecil, namun bermakna besar dalam membentuk pribadi yang lebih mandiri saat kembali ke tengah masyarakat.(Nang/Humas)

Posting Komentar