Manaqib Kubro Semarakkan Haul ke-311 Kyai Ageng Nur Shodiq Al-Hafidz, Tegalsari Jadi Lautan Jamaah

Suasana peringatan Haul ke-311 Kyai Ageng Nur Shodiq Al Hafidz

PONOROGO, SINYALINDONESIA
– Malam di Tegalsari, Kecamatan Jetis, seakan berdenyut dalam irama dzikir dan doa. Ratusan jamaah dari berbagai daerah memadati kompleks makam Kyai Ageng Nur Shodiq Al-Hafidz, Sabtu (27/6/2026), dalam puncak peringatan haul ke-311 ulama kharismatik tersebut.

Suasana khidmat terasa sejak awal hingga akhir rangkaian acara. Manaqib Kubro yang dipimpin KH. Imam Suyono dari Pondok Pesantren Al Barokah Mangunsuman menjadi magnet spiritual, mengikat jamaah dalam satu majelis yang sarat makna, antara refleksi sejarah dan penguatan iman.

Rangkaian haul sejatinya telah dimulai sejak Jumat malam dengan semaan Al-Qur’an, dilanjutkan Sabtu sore dengan prosesi penggantian mori penutup nisan serta tabur bunga—ritual simbolik yang mencerminkan penghormatan mendalam kepada sosok ulama besar yang dikenal sebagai hafidz Al-Qur’an dan tokoh penting di lingkungan Pesantren Tegalsari.


Secara historis, Kyai Ageng Nur Shodiq Al-Hafidz merupakan adik kandung Kyai Ageng Muhammad Besari, pendiri Pesantren Gebang Tinatar yang pernah menjadi pusat keilmuan Islam di Jawa pada abad ke-18. Tegalsari sendiri dikenal sebagai episentrum lahirnya ulama besar dan tokoh bangsa, dengan ribuan santri dari berbagai daerah pernah menimba ilmu di sana.

Kepala Desa Tegalsari, Khoirul Huda, dalam sambutannya menegaskan bahwa haul bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang silaturahmi spiritual lintas generasi.

“Terima kasih atas kehadiran seluruh jamaah. Semoga haul ini membawa berkah dan memperkuat kebersamaan kita,” ujarnya.

Sementara itu, dalam mauidhoh hasanahnya, KH. Imam Suyono mengajak jamaah untuk tidak sekadar mengenang, tetapi juga meneladani para ulama Tegalsari.

“Kita dikenalkan dengan tiga saudara besar: Kyai Khotib Anom, Kyai Muhammad Besari, dan Kyai Nur Shodiq. Mereka kekasih Allah. Kalau ingin hidup baik dan selamat, dekatlah dengan orang-orang saleh,” pesannya.

Menurutnya, tradisi haul dan manaqib menjadi jembatan penting untuk merawat ingatan kolektif umat terhadap jasa ulama, sekaligus menanamkan nilai akhlak dan keilmuan kepada generasi muda.

Di tengah arus modernisasi, Tegalsari tetap berdiri sebagai simpul spiritual yang hidup. Haul ke-311 ini bukan hanya ritual, melainkan penegasan bahwa warisan keilmuan Islam—yang pernah berjaya di bumi Tegalsari—masih terus berdenyut, dirawat oleh jamaah yang datang dengan harap: berkah, keteladanan, dan penguatan iman.(Nang/Humas).

0/Post a Comment/Comments

Sinyal Indonesia

Dilihat :