
Andri Hendratmoyo
Camat Ngebel Ponorogo
PONOROGO, SINYALINDONESIA — Aktivitas pertambangan galian C di kawasan Kecamatan Ngebel kembali menjadi sorotan. Di tengah meningkatnya keresahan warga, fakta menarik justru mengemuka: saat aktivitas tambang berhenti, sektor pariwisata Ngebel mengalami lonjakan signifikan.
Hal itu terungkap dalam rapat koordinasi dan kunjungan lapangan yang digelar Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur di Pendopo Kecamatan Ngebel, Kamis (11/6/2026). Forum tersebut dihadiri Ketua Komisi D DPRD Jatim H. Abdul Halim, SH, MH, perwakilan ESDM Provinsi Jawa Timur, OPD Kabupaten Ponorogo seperti DPUPKP dan Dinas Lingkungan Hidup, serta unsur Forkopimcam dan tokoh masyarakat.
Dalam forum tersebut, warga menyampaikan langsung keresahan mereka terhadap aktivitas tambang yang dinilai mengancam keselamatan, merusak infrastruktur jalan, serta mengganggu wajah Ngebel sebagai kawasan wisata.
Ketua Komisi D DPRD Jatim, Abdul Halim, menegaskan bahwa posisi Ngebel dalam regulasi tata ruang sudah sangat jelas.
“Berdasarkan regulasi yang ada, Kecamatan Ngebel merupakan kawasan zonasi khusus pariwisata dan penyangga lingkungan. Itu sudah jelas,” ujarnya.
Ia menegaskan, kehadiran Komisi D bukan untuk mengambil keputusan sepihak, melainkan menyerap aspirasi secara utuh sebelum menentukan arah kebijakan.
“Kami tidak bisa langsung memutuskan hari ini. Namun pedoman kami tetap pada regulasi bahwa Ngebel adalah kawasan pariwisata dan penyangga lingkungan. Kebijakan yang diambil nanti tidak akan jauh dari prinsip tersebut,” tambahnya.
Sementara itu, Camat Ngebel Andri Hendratmoyo mengungkapkan dinamika yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Ia menyebut aktivitas tambang sempat berhenti selama kurang lebih 50 hari, meskipun tidak diketahui secara pasti pihak yang menghentikannya.
“Ketika kami tanyakan di forum, tidak ada yang mengaku. Kemungkinan besar mereka berhenti atas inisiatif sendiri,” jelasnya.
Namun justru pada periode tersebut, sektor pariwisata Ngebel mengalami peningkatan yang signifikan. Kunjungan wisatawan ke Telaga Ngebel meningkat, berdampak langsung pada perputaran ekonomi masyarakat.
“Omzet pedagang naik, tingkat hunian hotel juga meningkat. Saya sudah keliling dan melihat sendiri kondisinya,” ungkap Andri.
Kondisi berbalik ketika aktivitas tambang kembali berjalan. Dalam beberapa waktu terakhir, pelaku usaha wisata mulai mengeluhkan penurunan jumlah pengunjung yang berimbas pada turunnya omzet.
“Sekarang mulai terasa menurun lagi. Ini sangat berdampak, apalagi saya juga pelaku usaha di Ngebel,” tambahnya.
Aktivitas tambang selama ini dinilai membawa dampak nyata, mulai dari lalu lalang dump truck yang mengganggu kenyamanan wisatawan hingga kerusakan akses jalan di kawasan tersebut.
Camat Ngebel berharap kehadiran DPRD Jatim dapat memberikan kejelasan arah kebijakan terkait keberlanjutan aktivitas pertambangan di wilayahnya.
“Kami ingin ada kepastian. Tambang ini mau seperti apa ke depan. Yang jelas, kami ingin yang terbaik untuk masyarakat Ngebel,” tegasnya.
Forum tersebut menjadi ruang terbuka bagi seluruh pihak untuk menyampaikan pandangan. Di tengah tarik menarik antara kepentingan ekonomi tambang dan pariwisata, Komisi D DPRD Jatim menegaskan komitmennya untuk mencari solusi yang berpihak pada keselamatan warga, kelestarian lingkungan, dan keberlanjutan ekonomi lokal.
Ngebel kini berada di persimpangan. Pilihan kebijakan yang diambil ke depan akan menentukan apakah kawasan ini tetap tumbuh sebagai destinasi wisata unggulan, atau justru tergerus oleh aktivitas pertambangan yang terus meluas.(Rizal/Red).
Posting Komentar