PONOROGO, SINYALINDONESIA – Upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) terus didorong dengan pendekatan yang lebih membumi. Polsek Sukorejo memilih cara sederhana namun efektif: duduk bersama warga.
Melalui momentum halal bihalal dan “ngopi bareng” di Angkringan Tangsi WSW AK.47, Polsek Sukorejo resmi meluncurkan program inovatif Sabuk Kamtibmas, April 2026. Program ini menjadi simbol sekaligus gerakan nyata memperkuat sinergi antara aparat keamanan dan masyarakat.
Kapolsek Sukorejo, Iptu Agus Tri Cahyo Wiyono, S.H., M.H., menegaskan bahwa keamanan tidak bisa hanya dibebankan kepada polisi. Peran masyarakat menjadi kunci utama.
“Sabuk Kamtibmas bukan sekadar simbol. Ini adalah komitmen bersama untuk membangun lingkungan yang aman melalui sinergitas seluruh elemen,” ujarnya.
Kegiatan tersebut dihadiri berbagai unsur masyarakat, mulai dari Forkopimka, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, hingga perguruan silat. Hadir pula Ketua FKPSB Sukorejo Sukarji, perwakilan RAPI, Banser, serta komunitas lokal lainnya. Suasana akrab tanpa sekat menjadi kekuatan utama forum tersebut.
Lebih dari Sekadar Program
Sabuk Kamtibmas merupakan akronim dari Sarana, Anggota, Bina, Upaya, dan Kamtibmas. Namun lebih jauh, program ini dirancang sebagai wadah kolaborasi aktif antara Bhabinkamtibmas dengan masyarakat di tingkat akar rumput.
Mulai dari RT/RW, karang taruna, linmas, satpam hingga organisasi kemasyarakatan, semuanya dilibatkan dalam satu sistem deteksi dini. Pendekatannya tidak hanya represif, tetapi juga preventif dan solutif.
Lewat forum rembug warga, siskamling, patroli bersama, hingga penyuluhan hukum, berbagai persoalan sosial diharapkan bisa diselesaikan sebelum berkembang menjadi konflik atau tindak pidana.
Kapolsek juga mengingatkan pentingnya kepekaan sosial masyarakat. Ia mendorong warga untuk tidak ragu melapor jika menemukan potensi gangguan keamanan di lingkungannya.
“Kalau ada potensi masalah, sekecil apa pun, segera disampaikan. Jangan menunggu besar,” tegasnya.
Dari Angkringan untuk Ketahanan Sosial
Pemilihan angkringan sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Ruang publik yang egaliter ini menjadi simbol bahwa keamanan lahir dari kedekatan, bukan sekadar instruksi.
Pendekatan humanis ini sejalan dengan upaya Polri membangun kepercayaan publik. Dengan duduk setara, berdialog santai, dan melibatkan semua unsur, Polsek Sukorejo mencoba membangun ketahanan sosial dari bawah.
Ke depan, Sabuk Kamtibmas diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni peluncuran. Program ini ditargetkan menjadi gerakan berkelanjutan yang mampu menjadikan Sukorejo sebagai wilayah yang aman, tertib, dan harmonis.
Jika berjalan konsisten, bukan tidak mungkin model ini menjadi rujukan bagi wilayah lain di Ponorogo. Sebab, keamanan sejatinya bukan hanya soal patroli—tetapi soal kebersamaan menjaga kampung sendiri.(Nang/Humas).


Posting Komentar